
Di Usia Pensiun, Stepanus Tebai Apresiasi Kebersatuan Komunitas Bunani Lewat Tradisi Masak Nota
DOGIYAI Disbudparkabdogiyai.com– Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Kampung Mogou, Distrik Kamuu Utara, Kabupaten Dogiyai, pada Senin (27/7/2026). Di tengah riuh rendah persiapan dan pelaksanaan acara adat “Masak Nota”, kehadiran seorang tokoh senior menjadi sorotan utama. Stepanus Tebai, S.Pd., mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai, hadir langsung untuk menyaksikan rangkaian acara tersebut dari awal hingga akhir.
Kehadiran Stepanus Tebai, yang kini telah memasuki masa pensiun, bukan sekadar sebagai tamu undangan biasa, melainkan sebagai bentuk kecintaan mendalam terhadap akar budayanya. Ia tampak antusias mengamati setiap proses tradisi yang dijalankan oleh Komunitas Bunani, sebuah kelompok masyarakat yang dikenal kuat dalam memegang teguh nilai-nilai leluhur suku Mee.
Saat diwawancarai oleh wartawan di sela-sela kegiatan, Stepanus Tebai menyatakan kekagumannya yang luar biasa terhadap kemampuan Komunitas Bunani dalam menyelenggarakan acara berskala besar.
“Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia budaya, saya sangat mengapresiasi pelaksanaan acara Masak Nota ini. Luar biasa! Meskipun pesertanya berjumlah ratusan bahkan bisa mencapai ribuan orang, semuanya tertata dengan rapi dan penuh kekeluargaan. Ini menunjukkan betapa hebatnya solidaritas dan manajemen komunitas Bunani,” ujar Stepanus dengan nada bangga.
Bagi Stepanus, keberhasilan acara semacam ini bukan hanya soal konsumsi atau keramaian, melainkan bukti nyata bahwa persatuan dan kesatuan masih hidup subur di tengah masyarakat Dogiyai. Ia berharap semangat ini dapat terus dipertahankan dan diteruskan oleh generasi muda sebagai modal sosial untuk melestarikan identitas Komunitas Bunani di Dogiyai.
Lebih jauh, mantan Kadis Pariwisata ini menekankan pentingnya revitalisasi acara-acara adat serupa di masa depan. Menurutnya, di era modern yang serba cepat, ruang-ruang pertemuan fisik seperti Masak Nota menjadi sangat krusial untuk memperkuat tali persaudaraan.
“Saya berharap ke depannya, acara seperti ini tidak hanya sekali ini saja, tetapi bisa diadakan secara rutin. Melalui kegiatan berkumpul, makan bersama, dan berbagi cerita seperti ini, rasa cinta terhadap adat dan budaya akan semakin mengakar. Ini adalah obat terbaik untuk mencegah perpecahan dan meningkatkan rasa saling memiliki,” jelasnya.
Stepanus juga menyoroti bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi dimulai dari inisiatif komunitas kecil seperti Bunani yang kemudian menginspirasi lingkup yang lebih luas.
Di penghujung wawancara, Stepanus Tebai menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada pimpinan dan seluruh anggota Komunitas Bunani Kampung Mogou. Baginya, undangan untuk hadir dalam acara adat tersebut adalah sebuah kehormatan tersendiri di masa tuanya.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para pemimpin dan anggota Komunitas Bunani Mogou. Di usia saya yang sudah memasuki masa pensiun, masih diberi kesempatan dan diundang untuk hadir di acara Masak Nota ini adalah sebuah anugerah. Ini membuat saya merasa masih dihargai dan menjadi bagian dari keluarga besar budaya kita. Terima kasih telah menjaga saya tetap dekat dengan tanah leluhur,” pungkasnya dengan senyuman hangat.